Membangun rumah tangga sakinah
Ceramah
S
Saefuddaulah Mehir
2 Mei 2026
4 menit baca
0 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالس...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
وَ مِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم: 21)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat, para alim ulama, tokoh masyarakat, para Bapak Ibu sekalian yang saya hormati. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, salam sejahtera untuk kita semua. Sungguh merupakan sebuah kehormatan bagi saya bisa berdiri di hadapan Bapak, Ibu, sekalian pada pagi/siang/sore yang berbahagia ini. Semoga kehadiran kita semua dicatat sebagai amal ibadah di sisi Allah SWT.
Hari ini, kita akan bersama-sama merenungi sebuah tema yang sangat fundamental dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu "Membangun Rumah Tangga Sakinah". Kata sakinah sendiri, Bapak, Ibu, memiliki makna ketenangan, kedamaian, kasih sayang, dan rasa aman. Bukankah itu yang kita dambakan dalam setiap helaan napas, dalam setiap detik kehidupan kita bersama orang-orang yang kita cintai?
Namun, mari kita jujur pada diri sendiri. Berapa banyak dari kita yang hari ini merasakan ketenangan itu dalam rumah tangga kita? Betapa seringnya air mata menjadi saksi bisu dari pertengkaran yang tak berujung, dari kata-kata kasar yang melukai, dari hati yang membeku karena kekecewaan. Terkadang, kita lupa bahwa rumah tangga yang dibangun atas nama Allah bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi sebuah surga kecil di dunia, tempat kita meneduhkan hati dari segala hiruk pikuk dunia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 21:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri pasangan-pasangan, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu mawaddah (cinta kasih) dan rahmah (kasih sayang). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
Perhatikan, Bapak, Ibu. Allah tidak hanya menciptakan pasangan hidup, tapi juga menanamkan "mawaddah" dan "rahmah". Cinta dan kasih sayang. Itu adalah anugerah yang luar biasa. Namun, anugerah ini perlu kita pupuk, kita jaga, agar tidak layu sebelum berkembang.
Bayangkan, teladan kita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah sosok yang paling lembut, paling penyayang kepada keluarganya. Pernah suatu ketika beliau pulang dari perang dan disambut oleh istri-istrinya. Saat itu, malam sudah larut. Beliau melihat putrinya, Fatimah radhiyallahu 'anha, berbaring kelelahan. Apa yang beliau lakukan? Beliau tidak menegur karena lelah. Beliau malah mencium dan memeluk Fatimah sembari berkata, "Wahai anakku, maafkan ayahmu, belum bisa memberikan apa-apa untuk meringankan bebanmu". Begitu indahnya kasih sayang itu, Bapak, Ibu.
Membangun rumah tangga sakinah memang tidak mudah. Ia membutuhkan kesabaran, pengertian, dan pengorbanan. Bukankah seringkali kita terlena oleh ego kita sendiri? Kita lebih sibuk menghitung kesalahan pasangan daripada memperbaiki diri. Kita lebih pandai menyalahkan daripada memaafkan.
Ingatlah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Dan bagi suami pun berkewajiban memberikan nafkah dan pakaian kepada istrinya dengan cara yang makruf (baik)." (HR. Muslim)
"Seorang mukmin tidak boleh membenci mukminah (istrinya). Jika ia tidak suka satu perangainya, ia pasti ridha dengan perangai lainnya." (HR. Muslim)
Ayat dan hadits ini mengajarkan kita untuk saling mengerti, saling menghargai, dan saling menutupi kekurangan. Bukan malah memperbesar masalah, bukan malah saling menjatuhkan.
Rumah tangga sakinah itu, Bapak, Ibu, ibarat sebuah kapal yang berlayar di lautan kehidupan. Mungkin ada badai, ada ombak besar, tapi selama nahkoda dan awak kapalnya bekerja sama, saling mendukung, serta menjadikan Allah sebagai nahkoda utamanya, Insya Allah kapal rumah tangga kita akan sampai di pelabuhan tujuan, yaitu surga-Nya.
Mari kita renungkan kembali hati kita. Apakah hati kita sudah benar-benar tenang di rumah? Ataukah justru rumah adalah tempat kita menumpahkan segala kekesalan dari luar? Jika begitu, maka ada yang salah dengan pondasi rumah tangga kita.
Untuk mencapai sakinah, mari kita mulai dari hal-hal kecil. Mengucapkan terima kasih, memberikan senyuman tulus, membantu pekerjaan rumah tanpa diminta, menahan lisan dari perkataan yang menyakitkan, dan yang terpenting, berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan ketenangan dan kedamaian.
Jadikanlah rumah kita taman surga di dunia. Tempat kita belajar sabar, tempat kita belajar ikhlas, tempat kita belajar mencintai karena Allah. Saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mendukung dalam ketaatan.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua, meringankan beban kita, dan menganugerahkan kepada kita rumah tangga yang penuh sakinah, mawaddah, warahmah, sampai akhir hayat. Marilah kita introspeksi diri, saling merangkul, saling mengasihi, agar rumah tangga kita kelak menjadi saksi kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan di hati Bapak, Ibu sekalian.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.